Powered By Blogger

Sabtu, 04 Januari 2014

Puisi Hujan

Puisi Hujan

Puisi Hujan

Puisi Hujan
Deras hujan kini membasahi tanah kampungku.
diantarkan angin yang menghembus.
maka jadilah bumi laksana kaca
memantulkan cahaya dari langit
awan gelap membawa kabar langit yang tersembunyi
awalnya aku takut kan gelap
ia laksana kengerian dan rumah hantu
tapi kini ku tahu, tak semua kegelapan itu menakutkan
kadang gelap awan membawa hujan
jadikan bunga-bunga tersenyum manis dan mengandung madu
dan selanjutnya menjadi pesta pora para kumbang di taman.
kegelapan pun ternyata menjadikan jelas pancaran cahaya rembulan
dan bintang gemintar berkerlap kerlip laksana kerlingan mata bidadari
hujan yang sekarang turun membawa sejuta nuansa-nuansa ilham
bagi diriku yang sendiri di dalam kamar.
musim hujan bagiku adalah musim untuk merenungi kembali kehidupan
dan mengambil manfaat dari setiap peristiwa
dan tanganku tak kuat untuk menahan simponi indah yang turun ke hati.
ingin aku segera tumpahkan nuansa bening itu dalam kertas bak langit yang mencurahkan hujan
aroma sejuk yang datang dari arah timur menenangkan hati ini dan mendendangkan ribuan kasidah.

hujan telah berhenti, dan kenangan langit ini tinggal di hatiku.
seperti tamu yang betah di rumahku.
bening tetes hujan yang bertengger di daun hijau itu seperti bidadari bermata bening.
menyejukkan mataku yang rabun/
dan bunga merah jambu itu seperti kedinginan
dan seakan memanggilku untuk kupeluk.
ah bunga yang mempesona.
air pun mengalir di kali-kali kecil di sekitar rumahku
berjalan dengan pasti menuju arah rendah
ke sawah-sawah atau ke telaga
dan ikan-ikan pun menari riang gembira
air jernih adalah kesenangan mereka
seperti orang miskin yang lapar menemukan makanan halal
sepotong rotipun bagi mereka laksana mendapatkan dunia dan seisinya
tetes hujan menjadi keriangan hati bagi musafir yang haus ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar